Kamis, 20 Maret 2014

Gosip PKS...

PKS lagi … PKS lagi. Mungkin itulah penilaian sebagian masyarakat terkait pemberitaan di media setahun terakhir ini. Bagaimana tidak, media tidak pernah luput memberitakan partai yang berlambang setangkai pada emas yang diapit oleh dua bulan sabit ini.

Sepanjang Maret 2014 saja, hampir apa saja yang mengenai PKS, dapat dipastikan menjadi berita besar. Tengok saja kampanye perdana terbukanya di Jakarta. Gelora Bung Karno (GBK) yang megah tak mampu menampung ratusan ribu kader dan simpatisannya. Acara yang hanya berdurasi 5 jam ini mampu menjadi “gossip” sampai hari ini.

Hanya beberapa media yang masih “perawan” lah yang ikhlas mengabarkan kejadian acara aktual tanpa pesanan. Hampir semua media mainstream menyembunyikan kehebatan kampanye partai bernomor 3 ini.

Gosip yang beredar justru soal keterlibatan anak-anak di acara pesta kampanye. Dari kicauan KPAI sampai ancaman Bawaslu untuk mendiskualifikasi PKS jika benar secara sengaja mengeksploitasi anak di bawah umur. Namun kader-kader PKS pun tak hilang akal, mereka pun dengan giat menyebarkan gambaran kampanye akbar di berbagai media internal, sosial media dan dari mulut ke mulut kepada rakyat Indonesia.

Gambar pun berbicara. Dengan ratusan ribu manusia tanpa merusak fasilitas GBK apakah layak disebut partai bermasalah? Dengan ratusan ribu manusia tanpa menginjak rumput GBK, apakah pantas disebut partai perusak? Dengan ratusan ribu manusia tanpa keributan, apakah pantas disebut sebagai pelanggar? Sehingga “Gosip-gosip tetangga” tentu dapat dimentahkan. inilah yang sejatinya membuat PKS kian tenar dan berkibar.

Musuh-musuh PKS mungkin karena sudah gelap mata sehingga tidak pernah menyadari bahwa semakin PKS mendapat fitnahan, justru kesolidan kadernya akan menguat. Dan kader di PKS bukanlah sekedar pajangan. Ia adalah nafasnya. Ia adalah jantungnya. ia adalah tulung punggung dan otaknya itu sendiri.

Akhirnya para pengamat nyinyir pun berucap, persoalan PKS di internal sudah selesai, namun belum selesai di masyarakat. Mereka pura-pura lupa, dengan kader yang solid mereka terus bekerja untuk meyakinkan publik bahwa PKS lah yang layak menjadi pilihan. Dan kehadiran ratusan ribu manusia di GBK adalah bukti nyata bahwa kader-kader PKS terus bekerja.

Pembingkaian negatif media dan kesangaran Bawaslu yang menyikapi persoalan keterlibatan anak dalam kampanye PKS dirasa terlalu kasar. Apalagi isu ketelibatan anak-anak juga dilakukan oleh semua parpol, sehingga jika media dan Bawaslu hanya menghajar PKS saja, maka rakyat pun akan memahami bahwa PKS memang ingin dibunuh karakternya secara jahat.

Padahal anak yang ikut kampanye PKS itu “hanya” dalam gendongan ibunya dan pundak bapaknya. Berbeda dengan katerlibatan anak di partai lain, di mana anak ikut bergoyang dangdut koplo dan jauh dari pantauan orang tua. Jika itu adalah kesalahan, maka justru yang paling fatal adalah partai lain. Jadi kesimpulannya semakin sering media menyudutkan PKS dengan gaya membabi buta, justru akan menguntungkan PKS sampai beratus-ratus persen. Bahasa infotainment-nya, semakin digosip, PKS justru semakin Sipks.

Lantas, apa sih hebatnya PKS? Bukankah partai berideologi Islam semacam PPP dan PBB memiliki hak untuk digosipkan? Namun kenapa mereka tidak pernah dibicarakan? Partai berhaluan nasionalis, sebangsa PKPI dan Partai Gerindra juga. Bahkan tiga partai yang katanya besar seperti PD, PDIP dan Partai Golkar juga kenapa “tidak renyah” untuk dimakan? Kalah cerdaskah mereka?

Banyak kader partai yang jelas-jelas terseret kasus korupsi dan tindakan amoral. Namun kenyataaannya hanya segelintir. Catat, segelintir yang terjebak.

Sebegitu hebat, cerdas dan profesionalkah PKS, sehingga senantiasa mendapat perhatian? Atau mungkin ada pihak yang bersekongkol ingin membonsai PKS, dengan mengatakan, PKS memang indah namun jangan sampai menjadi besar. Jika benar itu yang menjadi anggapan musuh-musuh PKS, maka relakah orang-orang hasad ini layak mengendalikan Indonesia? Wallahua’lam.

Oleh: Ibnu Syakir - Kompasiana
Follow @ibnusy_haq on Twitter

0 komentar:

Posting Komentar