Selasa, 27 Mei 2014

Tingkatkan Layanan Rumah Sakit

Palangka Raya, senin (26/5) agenda kunjungan kerja Anggota Komisi C DPRD Kalteng beserta Wakil Ketua DPRD Kalteng, Ir. Arief Budiatmo ke Rumah Sakit Pasar Rebo Jakarta beberapa waktu lalu (Rabu, 21/5) menghasilkan beberapa informasi dan implementasi penting yang semestinya bisa di laksanakan di Kalimantan Tengah. 

Anggota DPRD Kalteng, Heru Hidayat,ST menyampaikan ada empat model yang bisa dilakukan oleh Rumah Sakit dalam rangka menumbuhkan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Menurut Heru, Rumah Sakit Pasar Rebo sendiri memiliki tiga misi yang semuanya terfokus pada pelayanan dan mereka menyadari bahwa mindset yang harus dibangun adalah paradigma pelayanan sehingga menghasilkan empat metode pengelolaan, 

Pertama harus ada komitmen bersama agar semua pihak baik direktur sampai cleaning service bisa melakukan proses secara tersistem dan terintegrasi dengan billing system Rumah Sakit. Sehingga setiap tindakan, kebutuhan dan juga laporan akan menjadi satu kesatuan yang terpadu ada pada seluruh pihak di Rumah Sakit.  Misalkan menurut politisi PKS ini sebagaimana yang di paparkan oleh manajemen RS Pasar Rebo, Para dokter akan dimudahkan dalam setiap administrasi dan juga proses hak gaji serta tunjangan yang akan di dapatkan, bahkan kebutuhan obat, peralatan, dan sdm yang diperlukan akan terpantau dan terukur semua sehingga akan memudahkan proses manajemen. Tidak ada target yang dibebankan kepada Rumah Sakit dari Pemerintah Provinsi yang ada hanyalah fokus kepada pelayanan yang baik, karena dengan cara itu maka akan membuat pasien selalu menghendaki berobat ke Rumah Sakit sehingga secara otomatis akan meningkatkan kunjungan pasien. 

Kedua adanya tunjangan perbaikan penghasilan yang sama untuk semua pihak dari direktur sampai cleaning service selain gaji dan tunjangan lainnya juga memfasilitasi strandar kompetensi paramedis agar mereka memiliki kemampuan yang terjaga. Dengan pendekatan seperti ini maka diharapkan akan mampu mengapresiasi semua pegawai termasuk tenaga kontrak yang ada di RS Pasar Rebo. 

Ketiga adalah akuntabilitas keuangan semua pihak Rumah Sakit, karena sebagai BLUD maka harus melaporkan keuangan secara transparan, maka dengan adanya sistem yang terintegrasi tersebut akan memudahkan pihak Rumah Sakit ketika harus melakukan laporan secara berkala dan akuntabel melalui proses audit sebanyak empat kali yaitu inspektorat, BPKP, BPK RI, dan auditor independen. Jadi harus ditopang oleh billing system yang berjalan dalam sebuah Rumah Sakit ketika Rumah Sakit tersebut berkeinginan kuat untuk maju ungkap Heru. 

Keempat adalah adanya pola pengawasan yang kuat dan sanksi yang melakukan tindakan melanggar aturan, misalkan tidak membolehkannya apotek dari pihak lain di dalam Rumah Sakit dengan terbitnya peraturan Gubernur, jadi pihak Pemerintah Provinsi juga turut membantu adanya regulasi yang mendukung RS Pasar Rebo, semestinya untuk obat sudah terpadu di Rumah Sakit, memberikan sanksi tegas bagi petugas yang melakukan tindakan bermain obat-obatan kepada para pasien, dan lainnya ungkap Heru sebagaimana di sampaikan pihak manajemen RS Pasar Rebo. 

Dengan adanya BPJS, pihak RS Pasar Rebo bekerjasama dengan BPJS agar melakukan efektifitas pelayanan mulai dari menghitung kebutuhan tempat pendaftaran agar tidak terjadi antrian panjang dan lama, kemudian dari proses pendaftaran yang cukup sekali dilakukan di Rumah Sakit, sehingga data terintegrasi dengan BPJS secara keseluruhan dan ketersedian obat-obatan di Rumah Sakit yang memudahkan pasien untuk mendapatkan obat ungkap Heru. 

Dengan menerapkan pola manajemen terintegrasi maka RS Pasar Rebo mendapatkan berbagai penghargaan dan standar dalam bidang pelayanan dan keuangan, dengan demikian Heru berharap Pemerintah daerah beserta Rumah Sakit di Kalteng, terutama Rumah Sakit dr. Doris Sylvanus mampu menerapkan manajemen secara terintegrasi dalam rangka optimalisasi pelayanan kepada masyarakat.

0 komentar:

Posting Komentar