Senin, 21 September 2015

Korban dan Pelaku Kekerasan Anak Sejatinya Sama-sama "Korban"

JAKARTA (21/9) – Kekerasan yang menyebabkan meninggalnya anak didik kembali terjadi. Satu siswa SD di bilangan Kabayoran Lama, Jakarta Selatan meninggal setelah dipukul teman sekelasnya, Jumat (18/9) lalu.

Ketua Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Wirianingsih memandang secara lebih luas sejatinya korban dan pelaku di bawah umur sama-sama "korban" dari pola asuh yang kurang tepat.

Mestinya, ujar Wirianingsih, rumah adalah tempat anak mendapatkan kasih sayang, dan saling menghargai di antara anggota keluarga. Sementara sekolah adalah rumah kedua bagi anak, bukan sekedar tempat transfer ilmu pengetahuan. "Namun juga tempat karakter anak dibentuk, maka pengasuhan, pengawasan, dan perlindungan juga harus dilakukan dalam lingkungan sekolah," ujar Wirianingsih, Senin (21/9).

Ia menegaskan anak-anak yang berhadapan dengan hukum tetaplah sebagai "korban" akibat pengasuhan dan pengaruh lingkungan orang dewasa. "Saya sepakat agar kasus kekerasan anak yang dilakukan oleh anak di lingkungan sekolah ini didalami dulu, apakah ada variabel lain yang menyebabkan kematian pada korban," urainya.

Wirianingsih menjelaskan, mengacu pada Undang-Undang (UU) Peradilan Anak No. 11 tahun 2012,  pasal  5 dan 6, wajib dilakukan upaya diversi, yang bertujuan untuk mencapai  perdamain antara korban dan anak, menyelesaikan perkara anak di luar proses peradilan, menghindarkan anak dari perampasan kemerdekaan, mendorong masyarakat untuk berpartisipasi, dan menanamkan rasa tanggung jawab pada anak.

Dengan demikian, ujar Wirianingsih, diharapkan ke depan anak  yang berhadapan dengan hukum (ABH) dapat dibina dan dididik dengan sebaik-baiknya untuk menyongsong masa depannya yang masih panjang.

Apa yang dilakukan oleh anak, kata Wirianingsih, akan sangat dipengaruhi oleh contoh dan perilaku orang yang ada disekitarnya. Jika anak diasuh dengan kekerasan, dan sering melihat tindak kekerasan dari orang dewasa disekitarnya, besar kemungkinan akan melakukan kekerasan. 

Karena, menurut Wirianingsih, masa kanak-kanak adalah masa imitasi, masa mencontoh. "Ia akan menyerap secara baik,  apa yang ada di sekitarnya. Layaknya spons. Keteledanan dari orang dewasa, baik orang tua di rumah maupun guru di sekolah,  menjadi kaca kunci dalam proses pengasuhan dan pendidikan anak," imbuh Wirianingsih.

Lebih lanjut ibu dari 10 anak penghafal Al-Quran itu mengemukakan, keteladanan dalam keluarga akan terbangun dengan baik jika semua pihak menyadari bahwa keluarga merupakan pilar kemajuan bangsa. Menurutnya, baik buruknya sebuah bangsa akan ditentukan oleh keluarga.

Faktor lain yang mempengaruhi perilaku kekerasan yang dilakukan oleh seorang anak, ungkap Wirianingsih, adalah  tayangan media, baik cetak ataupun elektronik. Terpaparnya anak-anak oleh materi kekerasan melalui media massa maupun game, ujar Wirianingsih, telah memicu anak untuk melakukan kekerasan. 

Untuk itu, wanita yang juga salah seorang penggagas berdirinya Aliansi Selamatkan Anak Indonesia (ASA) itu, mengajak insan media untuk menguatkan peran positif dan kontributisinya dalam membangun karakter positif bangsa, melalui tayangan yang mendidik.

Lebih jauh Wirianingsih mengemukakan, PKS dengan program Rumah Keluarga Indonesia (RKI) siap mendampingi seluruh keluarga Indonesia untuk mewujudkan keluarga yang memiliki daya tahan akidah, daya tahan ekonomi, daya tahan sosial, politik , dan budaya. 

Ia mengajak Pemerintah dan seluruh pihak bersungguh-sungguh menjadikan keluarga sebagai basis dalam menyusun kebijakan pembangunan.

 

"Kami mengajak seluruh pihak untuk bersama mewujudkan ketahanan keluarga, karena keluarga adalah lembaga pendidikan utama dan pertama yang akan membentuk jiwa, karakter dan perilaku seorang anak," pungkas Wirianingsih.

0 komentar:

Posting Komentar