Rabu, 02 Maret 2016

Blok Masela Harus Dipergunakan untuk Kemakmuran Rakyat

Jakarta (1/3) - Pemerintah hingga detik ini belum memutuskan arah pengembangan Lapangan Gas Masela, Maluku. Dua opsi muncul lewat pengolahan gas alam cair akan dibangun diatas kapal terapung di laut dengan Floating Liquid Natural Gas - FLNG (Offshore) atau dibangun di daratan di pulau yang terdekat dengan LNG Plant (Onshore).

Ketua Bidang Ekuinteklh DPP PKS, Memed Sosiawan mengingatkan Pemerintah harus berani membuat keputusan yang memastikan gas di Blok Masela dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
Konstitusi kita menyatakan, Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. "Dengan demikian segala sumber daya alam, termasuk Blok Masela yang mengandung gas harus dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat," papar Memed di Kantor DPP PKS, Jakarta, Selasa (1/3/2016).
Memed menyebut masyarakat Maluku sendiri tentunya menginginkan agar pengolahan gas alam cairnya dilakukan di daratan (Onshore). Sebabnya agar dapat dimanfaatkan lebih lanjut oleh industri hilir gas seperti industri pupuk dan petrokimia. "Sehingga terjadi trickle down effect yang dapat menumbuhkan perekonomian domestik Maluku," ungkap dia.

Ia juga menjabarkan jika sejatinya pengolahan LNG Plant di daratan (Onshore) lebih ekonomis dibandingkanFloating Liquid Natural Gas - FLNG (Offshore).

Dalam catatannya, pembangunan blok Masela dengan menggunakan FLNG (Offshore) tanpa ada fasilitas di darat akan memerlukan investasi sebesar $ 17,83 miliar. Sedangkan pembangunan LNG Plant di daratan (Onshore) dapat diperkirakan memerlukan investasi sebesar $ 12miliar.

Angka ini berbeda dengan proposal perkiraan biaya dari Inpex dan Shell, yang menyatakan bahwa, pembangunan kilang offshore hanya US$ 14,8 miliar. Sedangkan pembangunan kilang di darat onshore, mencapai US$ 19,3 miliar.

Perkiraan tersebut juga berbeda kajian Kemenko Maritim dan Sumber Daya, bahwa biaya pembagunan kilang darat (Onshore) sekitar US$16 miliar. Sedangkan jika dibangun kilang apung di laut (Offshore), biayanya mencapai US$22 miliar.

"Dengan demikian, memang ada kesimpulan yang sama, bahwa kilang di darat (Onshore) lebih murah sekitar dibandingkan dengan kilang di laut (Offshore)," ungkap dia.

Keterangan Foto: Ketua Bidang Ekuinteklh DPP PKS, Memed Sosiawan

0 komentar:

Posting Komentar